Selasa, 14 April 2015

Pergilah Jika Lelah Menetap

Tentang malam yang selalu datang membawa hitam pekak,ada masa akan menemui pagi yang membawa terang.

Tentang pagi yang selalu membawa kesejukan dengan embunnya yang selalu mampir menyapa daun,ada masa dimana akan menghilang karena siang mulai menyapa dengan panasnya.

Tentang siang yang selalu angkuh dengan panasnya,pun ada masa ia akan redup ketika sore mulai mampir dengan keindahan senjanya.

Tentang keabadian yang selalu kau harapkan,tentang kebahagiaan yang selalu kau dambakan,ingatlah...bahwa segala apa yang manusia kehendaki,punya batas yang Tuhan telah tentukan.

Jika kau hanya ingin menetap lalu kemudian pergi...pergilah dengan membawa senyum,karena aku adalah aku yang jauh dari kesempurnaan.

Jika kau menginginkan aku tetap menetap, bersabarlah!!!,karena aku pun manusia sama seperti mereka yang kadang lelah,bosan dan jauh dari kesempurnaan.

Terima kasih yang pernah menetap lalu kemudian pergi,jika kau nyaman tinggallah ikuti alur ceritaku,jika kau lelah pergilah,karena aku pun tak akan mampu sanggup menahanmu tetap tinggal.

Seperti selayaknya malam yang merelakan pagi menenggelamkannya.

Seperti pagi yang rela meninggalkan kesejukan demi siang.

Dan begitu pun siang yang rela pergi demi senja.

Makassar,14 April 2015
03.19
Seniman Malam

Minggu, 12 April 2015

Ajak Aku Bersamamu

Di dalam ruang yg aku sebut puisi
Kau berdenyut,
Memberikan nyawa pada nadi tiap bait kata

Ku eja lagi sajakmu bernama lentera yg kau kirimkan hari kemarin
Aku perih dalam kata kata itu

Izinkan aku menjadi teman dalam jalan setapakmu
Pelipur lara di antara harapmu yg mungkin harus terjawab kosong di antara malam
Tempatmu kembali, menumpahkan segala pilu, duka dan marah
Aku ingin kau percayai itu

Karena cahaya pasti akan terbit setelah gelap
Dan kelam tak mesti mendekapmu dengan tega
Jangan lagi kau tutupi nanar dalam mata yg belum mampu aku tatap

Ajak aku bersamamu,
Melewati batu, terjatuh, terluka, atau kecewa,
Tapi kita akan tetap tersenyum
Karena aku bersamamu :)

Menyulam Kata
Jakarta,11 April 2015
09.41

Aku Beri Nama Dia "Lentera"

Aku beri nama dia lentera,tiap malam ketika kelam telah menyapa,
dia selalu hadir membawa penerang,mengusik kesunyian,hingga enggang rasanya beranjak dari malam menuju esok.

Aku beri nama dia lentera,karena hadirnya bagai bulan sehabis hujan,memberi kedamaian dengan cahaya yang redup.

Aku selalu menyapanya lewat syair,bercengkrama dengannya lewat puisi,dan tertidur dalam dekapan doa yang kami ucap dipenghujung cerita.

Aku beri nama dia lentera,karenanya kelam tak lagi hambar dan karenanya kelam tak lagi sunyi.

Terima kasih yang biasa aku sapa lentera,sebuah nama klasik dari moderennya dunia,yang terlupakan dari terangnya lampu jalanan kota.


Makassar, 12 April 2015
00.02
 

Sabtu, 11 April 2015

Sajak Cinta Dalam Rindu

Malam lagi lagi memeluk kita diantara kata dan cinta
Membasuh pilu dalam kelam yang ikut mendekap kuat hingga nafas seakan sesak.
Ketika rindu sampai ubun-ubun, menjalar ke seluruh sendi dan relung
Ragaku seakan terhempas, terlepas dari jiwa.
Rindu ini kejam tanpa pelampiasan

Aku hanya ingin kau miliki
Di lahirkan hanya untukmu,
dan kamu dilahirkan hanya untuk aku
Tuhan...
Itulah pintaku dalam sebait doa yang aku lantunkan ditiap akhir shalatku

Untuk semurni-murni kata cinta
Untuk selekat-lekat janji
Dan seindah-indah mimpi kita
Abadikanlah kisah cinta ini dalam balutan kasih asmara yang dihalalkan dari ucap akad

Menyulam kata bersama seniman malam
Jakarta-makassar,11 April 2015
1420 km

Kamu percaya tidak?  Aku Menangis Menunggumu

Ketika rindu terlalu mengukung, memukul, dan terlalu kaku untuk berkata
Aku hanya ingin menunggumu lagi menyapa

Malam semakin kelabu berselimut hujan yang baru saja turun
Seperti tau akan luka yang akhirnya tergores lagi
Dingin yang memeluk malam tak bergeser sedikit pun
Angkuh begitu pongah akan sunyi yang kau rawat

Kamu percaya tidak?
Aku menangis menunggumu

Ku ucap lagi harap dalam sebait doa berulang
Memupuk cinta di antara perihnya rindu
Tak inginkah kau sekedar obati?
Mendekapku dalam kata yang terlalu lama ingin ku dengar
Mengertilah..

Menyulam kata
11.52
Jakarta,9 April 2015

Jumat, 10 April 2015

Lenteraku

Lenteraku dalam dekapan malam yang hening.

Aku merindukanmu sebagai setitik pencahayaan dari rindunya mataku dari bayangan yang telah menghilang.

Malam ini hanya kelam yang remang,dingin dan hanya pendengaran yang bekerja.

Kemanakah kau yang selama ini menuntunku berjalan ditepian jalan,mengingatkanku ketika sebongkah batu yang dapat membuatku tersandung.

Kemanakah kau yang selama ini mengingatkanku tentang waktu,ketika aku terlena dalam aktivitas duniaku.

Semua kembali menjadi tanda tanya,tanpa keseruan.
Sepi,sunyi dan tak bermakna lagi kehidupan ini.

Menjelmalah dari kesekian lamanya kau hanya sekedar fatamorgana.
Yang datang hanya sekedar menciptakan keindahan sesaat.

Aku ingin kau tak sekedar imajinasiku tapi aku ingin kau berada disini didalam hati,bersemayam tanpa jedah,tanpa titik dan tanpa koma.

10 April 2015
Seniman Malam

Nyanyian dalam balutan rindu

Malam ini kelam kembali menyapaku dalam balutan rindu

Nyanyian seniman malam dalam balutan dingin yang menggigilkan tubuh pun ikut jadi saksi betapa sepinya malam demi malam yang aku lewatkan.

Kuseduh sebungkus kopi sebagai teman sepi menembus pagi,sebagai satu cara yang menjadikan alasan tetap terjaga malam ini.

Aku lelah menapaki jalan setapak tanpa teman...
Aku lelah tetap terlihat tegar dalam kekosongan...

Malam ini dingin kembali menyadarkanku.

Malam ini nyanyian binatang malam seakan mengejek,betapa deritanya berpura-pura tegar dalam kesendirian.

Seakan malam ingin berhenti sebelum pagi menjemput, menjadi saksi dalam kejujuranku bahwa aku merindukan perhatian dalam sepiku,merindukan marahnya seorang pacar ketika aku membandel dalam menjaga tubuhku dari sakit dan aku merindukan lentera kegelapan dalam menembus kelam menuju pagi..

Makassar,07 April 2014
Seniman malam

Diberdayakan oleh Blogger.